
Senja bagiku adalah kumpulan keceriaan lewat bahasa sederhana langit keemasan. Aku ingin memilikinya. Berkawan dengan segala harap yang aku bangun di dalamnya.
Aku hanya tidak ingin kopi itu mendingin sendirinya dengan tergesa. Seperti senja yang terburu-buru menuju petang. Cangkir itu tak pernah protes ketika aku mengajaknya berdialog tentang hidup, tentang rindu, tentang cinta, pula tentang mimpi-mimpi dan kehangatan masa yang akan datang supaya senja seakan lama mampu kunikmati dengan sempurna. Sekalipun seorang diri.
Terkadang aku menganggap bahwa ketakutan terbesar dalam hidup saya adalah tidak bisa mengendalikan ego dalam diri. Aku takut ketika sulit membedakan antara ambisi dan obsesi. Tapi aku percaya bahwa setiap apa yang aku pilih dan aku jalani adalah indah pada tanggungjawabku.
Aku terus melangkah, menapaki jalur yang aku yakini baik. Bertahan dengan segala keterbatasan. Di dalam kopi selalu ada unsur pahit dan manis. Menurut saya dalam hidup pun demikian, selalu ada pahit manis yang akan menjadi sebuah kesempurnaan rasa. Kita tidak akan pernah tahu betapa manisnya hidup ketika kita tidak pernah merasakan pahit, begitu pula sebaliknya. Bagiku kopi dan senja adalah kombinasi yang tidak dapat dipisahkan. Senja selalu membimbing keceriaan dalam setiap aroma kopi yang aku hirup. Aroma kopi selalu membuat jantungku berdebar lebih semarak, seakan terkumpul lagi kekuatan untuk menghadapi hari ini, esok dan seterusnya. Senja di mataku selalu nampak indah. Lebih indah lagi aku berharap akan ada seseorang yang tulus menemaniku tuk menghabiskan senja, menceritakan tentang impian-impian dan cita cinta bersama. Semoga. :’)
